Minggu, 19 Oktober 2014

MASJID JAMI' SUMENEP







Membicarakan destinasi wisata warisan budaya yang ada di Kabupaten Sumenep, kita akan disuguhi beragam pilihan. Kabupaten ujung timur yang terdapat di kepulauan Madura ini memiliki beberapa tempat wisata budaya eksotis yang sangat penting untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Masjid Agung atau Masjid Jamik.
Masjid ini dibangun kisaran tahun 1779 dan selesai pada tahun 1787 di bawah prakarsa Aria Asiruddin Natakusuma (Pangeran Natakusuma I), yang tidak lain adalah Adipati Sumenep ke 31 atau yang dikenal dengan Panembahan Sumolo (berkuasa tahun 1762-1811 M).
Menurut sejarah, Masjid Jamik Sumenep yang masuk dalam daftar 10 masjid tertua di Indonesia, dengan luas 100m x 100m dan terletak di Desa Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep ini merupakan masjid kedua sesudah berdirinya Masjid Laju. Sementara itu, Masjid Laju yang terdapat di belakang kompleks keraton dibangun oleh Pangeran Anggadipa atau Adipati Sumenep ke 21 (berkuasa tahun 1626-1644 M). Alasan tidak memadainya Masjid Laju menampung jama’ah menjadi factor utama didirikannya Masjid Jamik yang sekarang berada di samping barat Keraton Sumenep.
Menariknya, masjid yang dibangun oleh Panembahan Sumolo ini bukan sekadar dimaksudkan untuk mengatasi membludaknya jama’ah yang tidak bisa lagi tertampung di Masjid Laju. Ada pesan tertentu yang ingin diusung Panembahan Sumolo, dimana pesan ini terekam sangat jelas lewat arsitektur bangunan mulai dari pintu gerbang hingga bagian-bagian dalam masjid. Pesan itu adalah pentingnya menghargai nilai-nilai kebudayaan dalam suatu masyarakat.
Dan untuk masuk kesana para wisatawan tidak akan menghapuskan sepeser biaya apapun akan tetapi para wisatawan member seikhlasnya semisal Rp. 2000 ke kotak amal karena bukan untuk siapun akan tetapi untuk bekal amal di akhirat.
Jika kita cermati, arsitektur pagar depan Masjid Jamik yang sekaligus berfungsi sebagai pintu gerbang dan pos jaga itu mengusung budaya Tiongkok Kuno. Hal ini cukup beralasan mengingat tokoh yang ditunjuk Panembahan Sumolo untuk mendesain (arsitek) masjid ini tidak lain adalah Lauw Piango. Konon, Lauw Piango sendiri merupakan cucu Lauw Khun Thing dari Cina yang datang dan menetap di Sumenep. Lauw Khun Thing diperkirakan merupakan seorang pelarian dari Semarang saat terjadinya perang yang disebut ‘Huru-Hara Tionghwa’ (1740 M).
Tak hanya itu, memasuki dan melihat bagian-bagian dalam masjid kita akan disuguhi paduan budaya arsitektur bergaya Arab, Persia, Jawa, China dan India yang membentuk satu kesatuan ornament cukup memukau. Terutama pada bagian tempat imam.
Di sisi lain, ukiran dengan gaya Jawa yang menghiasi 10 jendela dengan 9 pintu besarnya membuat Masjid Jamik Sumenep ini tetap tidak kehilangan unsur kebudayaan lokalnya.  Namun, sentuhan budaya China terasa makin kental saat kita melihat mihrab masjid yang uniknya memiliki dua mimbar di sisi kiri dan kanan. Hiasan keramik porselen dengan warna biru cerah bercorak floral juga mendominasi dua mimbar dan mihrab di masjid ini. Dari coraknya, kemungkinan besar keramik porselen tersebut merupakan keramik yang di impor dari daratan China.
Unsur budaya lokal Jawa yang tak kalah kentalnya di masjid ini juga terlihat pada bangunan atap yang bersusun dengan puncak bagian atasnya menjulang tinggi. Hal ini mengingatkan kita pada bentuk bangunan Candi yang menjadi warisan budaya masyarakat Jawa. Kubah berbentuk tajuk yang merupakan kekayaan alami pada desain bangunan masyarakat Jawa juga memperkaya konsep akulturasi budaya pada masjid ini.
Ada satu pertanyaan menggelitik pada saat kita menyaksikan Masjid Jamik Sumenep yang berhasil mengkombinasikan berbagai latar budaya lewat santuhan arsitektur bangunannya; apa yang terbayang di benak Panembahan Sumolo saat membangun masjid indah nan megah ini?
Pertama, sulit untuk mengelak bahwa Masjid Jamik Sumenep ini memang dibangun dengan konsep memadukan nilai-nilai kebudayaan. Desain arsitektur yang mencerminkan terjadinya akulturasi kebudayaan Tiongkok, Arab, China, Persia, India dan Jawa seperti menyiratkan satu pesan sejarah yang sangat penting bahwa, pada masa itu sikap toleransi terhadap nilai-nilai budaya terawat dengan sangat baik.
Kedua, dengan dipadukannya berbagai unsur budaya dalam arsitektur Masjid Jamik Sumenep ini, barangkali Panembahan Sumolo ingin memberi pelajaran kepada kita bahwa, dengan beribadah secara benar dan konsisten, kita tidak hanya memperoleh pahala dari Tuhan, tapi di samping itu kita juga bisa menggalang tali persaudaraan dengan semua masyarakat yang berasal dari latar budaya yang beragam.
Ketiga, jika kita perhatikan, pada halaman Masjid Jamik Sumenep ini terdapat beberapa pohon sawo yang terawat dengan baik dan diyakini sudah ada sejak masjid itu dibangun. Bahkan di Madura pada umumnya, kita juga dapat menemukan pohon sawo yang ditanam di halaman masjid dan beberapa mushalla kuno.
Dalam Bahasa Madura, sawo disebut dengan sabu. Ditanamnya pohon sawo atau sabu di halaman Masjid Jamik Sumenep dan beberapa masjid kuno lainnya bukan tanpa alasan. Sebab bagi masyarakat Madura, kata sabu dapat berarti salat ta’ bu ambu (rajin shalat) atau salat jha’ bu ambu (jangan berhenti shalat).
Dari sini kita dapat melihat betapa filosofi yang terpahat pada arsitektur Masjid Jamik Sumenep ini berikut filosofi pohon sabu yang tumbuh di halaman depannya menjadi satu bukti kalau kita memiliki akar kebudayaan luhur yang membuat kita percaya diri bahwa, budaya kita itu memang Paling Indonesia.

4 komentar:

  1. gambar yang masjit agung itu gak ad lgi ya gan msak cuma satu aja???

    BalasHapus
  2. mas... siapa yang mendirikan masjid agung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa, Penguasa Sumenep XXI.

      Hapus