Membicarakan destinasi wisata
warisan budaya yang ada di Kabupaten Sumenep, kita akan disuguhi beragam
pilihan. Kabupaten ujung timur yang terdapat di kepulauan Madura ini memiliki
beberapa tempat wisata budaya eksotis yang sangat penting untuk dikunjungi.
Salah satunya adalah Masjid Agung atau Masjid Jamik.
Masjid ini dibangun kisaran
tahun 1779 dan selesai pada tahun 1787 di bawah prakarsa Aria Asiruddin
Natakusuma (Pangeran Natakusuma I), yang tidak lain adalah Adipati Sumenep ke
31 atau yang dikenal dengan Panembahan Sumolo (berkuasa tahun 1762-1811
M).
Menurut sejarah, Masjid Jamik
Sumenep yang masuk dalam daftar 10 masjid tertua di Indonesia, dengan luas 100m
x 100m dan terletak di Desa Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep ini merupakan
masjid kedua sesudah berdirinya Masjid Laju. Sementara itu, Masjid Laju yang
terdapat di belakang kompleks keraton dibangun oleh Pangeran Anggadipa atau
Adipati Sumenep ke 21 (berkuasa tahun 1626-1644 M). Alasan tidak memadainya
Masjid Laju menampung jama’ah menjadi factor utama didirikannya Masjid Jamik
yang sekarang berada di samping barat Keraton Sumenep.
Menariknya, masjid yang dibangun
oleh Panembahan Sumolo ini bukan sekadar dimaksudkan untuk mengatasi membludaknya
jama’ah yang tidak bisa lagi tertampung di Masjid Laju. Ada pesan tertentu yang
ingin diusung Panembahan Sumolo, dimana pesan ini terekam sangat jelas lewat
arsitektur bangunan mulai dari pintu gerbang hingga bagian-bagian dalam masjid.
Pesan itu adalah pentingnya menghargai nilai-nilai kebudayaan dalam suatu
masyarakat.
Dan untuk masuk kesana para
wisatawan tidak akan menghapuskan sepeser biaya apapun akan tetapi para
wisatawan member seikhlasnya semisal Rp. 2000 ke kotak amal karena bukan untuk
siapun akan tetapi untuk bekal amal di akhirat.
Jika kita cermati, arsitektur
pagar depan Masjid Jamik yang sekaligus berfungsi sebagai pintu gerbang dan pos
jaga itu mengusung budaya Tiongkok Kuno. Hal ini cukup beralasan mengingat
tokoh yang ditunjuk Panembahan Sumolo untuk mendesain (arsitek) masjid ini
tidak lain adalah Lauw Piango. Konon, Lauw Piango sendiri merupakan cucu Lauw
Khun Thing dari Cina yang datang dan menetap di Sumenep. Lauw Khun Thing
diperkirakan merupakan seorang pelarian dari Semarang saat terjadinya perang
yang disebut ‘Huru-Hara Tionghwa’ (1740 M).
Tak hanya itu, memasuki dan
melihat bagian-bagian dalam masjid kita akan disuguhi paduan budaya arsitektur
bergaya Arab, Persia, Jawa, China dan India yang membentuk satu kesatuan
ornament cukup memukau. Terutama pada bagian tempat imam.
Di sisi lain, ukiran dengan gaya
Jawa yang menghiasi 10 jendela dengan 9 pintu besarnya membuat Masjid Jamik
Sumenep ini tetap tidak kehilangan unsur kebudayaan lokalnya. Namun,
sentuhan budaya China terasa makin kental saat kita melihat mihrab masjid yang
uniknya memiliki dua mimbar di sisi kiri dan kanan. Hiasan keramik porselen
dengan warna biru cerah bercorak floral juga mendominasi dua mimbar dan mihrab
di masjid ini. Dari coraknya, kemungkinan besar keramik porselen tersebut
merupakan keramik yang di impor dari daratan China.
Unsur budaya lokal Jawa yang tak
kalah kentalnya di masjid ini juga terlihat pada bangunan atap yang bersusun
dengan puncak bagian atasnya menjulang tinggi. Hal ini mengingatkan kita pada
bentuk bangunan Candi yang menjadi warisan budaya masyarakat Jawa. Kubah
berbentuk tajuk yang merupakan kekayaan alami pada desain bangunan masyarakat
Jawa juga memperkaya konsep akulturasi budaya pada masjid ini.
Ada satu pertanyaan menggelitik
pada saat kita menyaksikan Masjid Jamik Sumenep yang berhasil mengkombinasikan
berbagai latar budaya lewat santuhan arsitektur bangunannya; apa yang terbayang
di benak Panembahan Sumolo saat membangun masjid indah nan megah ini?
Pertama, sulit untuk
mengelak bahwa Masjid Jamik Sumenep ini memang dibangun dengan konsep memadukan
nilai-nilai kebudayaan. Desain arsitektur yang mencerminkan terjadinya
akulturasi kebudayaan Tiongkok, Arab, China, Persia, India dan Jawa seperti menyiratkan
satu pesan sejarah yang sangat penting bahwa, pada masa itu sikap toleransi
terhadap nilai-nilai budaya terawat dengan sangat baik.
Kedua, dengan
dipadukannya berbagai unsur budaya dalam arsitektur Masjid Jamik Sumenep ini,
barangkali Panembahan Sumolo ingin memberi pelajaran kepada kita bahwa, dengan
beribadah secara benar dan konsisten, kita tidak hanya memperoleh pahala dari
Tuhan, tapi di samping itu kita juga bisa menggalang tali persaudaraan dengan
semua masyarakat yang berasal dari latar budaya yang beragam.
Ketiga, jika kita
perhatikan, pada halaman Masjid Jamik Sumenep ini terdapat beberapa pohon sawo
yang terawat dengan baik dan diyakini sudah ada sejak masjid itu dibangun.
Bahkan di Madura pada umumnya, kita juga dapat menemukan pohon sawo yang
ditanam di halaman masjid dan beberapa mushalla kuno.
Dalam Bahasa Madura, sawo
disebut dengan sabu. Ditanamnya pohon sawo atau sabu di halaman
Masjid Jamik Sumenep dan beberapa masjid kuno lainnya bukan tanpa alasan. Sebab
bagi masyarakat Madura, kata sabu dapat berarti salat ta’ bu ambu (rajin
shalat) atau salat jha’ bu ambu (jangan berhenti shalat).
Dari sini kita dapat melihat
betapa filosofi yang terpahat pada arsitektur Masjid Jamik Sumenep ini berikut
filosofi pohon sabu yang tumbuh di halaman depannya menjadi satu bukti
kalau kita memiliki akar kebudayaan luhur yang membuat kita percaya diri bahwa,
budaya kita itu memang Paling Indonesia.
gambar yang masjit agung itu gak ad lgi ya gan msak cuma satu aja???
BalasHapusada mas
Hapusmas... siapa yang mendirikan masjid agung
BalasHapusKanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa, Penguasa Sumenep XXI.
Hapus